Brama Kumbara Episode 38. Kali ini Brama Kumbara masih menjadi seorang jagoan bayaran milik juragan Toma. Brama dirawat oleh Doria wanita budak milik Juragan Toma yang sebelumnya adalah milik Juragan Sugriwa.

Kali ini Sadana mendapat lawan yang tangguh, ia adalah Lugina.


Dalam pertarungan Sadana dengan Lugina, Putri Harnum yang melihat Sadana langsung berlari dan berteriak memanggil nama Brama. Brama menjadi kaget dan ia terngiang dengan nama itu seolah ia pernah mengenalnya. Dalam hal ini hampir saja Brama Kalah karena diserang oleh Lugina. Beruntung Brama bisa menangkis serangan Lugina dengan ajian waringin sungsang miliknya. Pertarungan Sadana dengan Lugina dimenangkan oleh Sadana.

Karena mengganggu, Putri Harnum dibawa masuk oleh para pengawal karena sangat mengganggu sayembara.

Putri Harnum bersama Doria, Purti Harnum bercerita kalau Sadana adalah Raja Madangkara yang sudah beberapa hari menghilang. Mengetahui hal tersebut Doria langung bersujud menyembah Putri Harnum sebagai seorang permaisuri raja Madangkara.

---

Kekalahan Lugina dengan jurus Waringin sungsangnya, ternyata tidak dapat diterima oleh Kijara. Ia adalah Saudara seperguruan Lugina. Namun pertandingan itu tidak dapat dilangsungkan karena Toma juragan Sadana meminta taruhan yang lebih besar.

Toma meminta taruhan 1000 kepeng emas. Musuhnya tidak punya uang sebanyak itu sehingga ia harus menunda pertarungan. Saat itulah Buntak Bumi menyanggupi untuk membayar taruhan.

Kedatangan Kertagena dan Buntak Bumi sebenarnya atas usul dari Adyaksa untuk mencari pendekar-pendekar tangguh. Hal ini diceritakan dalam episode ke 37 sebelumnya.

Namun pertandingan tidak dapat dilanjutkan karena hari sudah malam sehingga pertandingan harus dilanjutkan esok hari.

***

Buntak Bumi dan Kertagena melihat putri Harnum yang tadinya berteriak di panggung. ia kemudian mendatangi Juragan Soma. Buntak Bumi membeli Harnum dengan Harga 500 kepeng emas.

---

Dalam sebuah sel tempat Sadana beristirahat, ia masih ditemani oleh Doria. Doria membersihkan tubuh Brama. Brama bercerita kalau ingatannya kini sudah kembali. Dan doria menceritakan kalau sebenarnya ditempat itu sebelumya ada putri harnum, tapi kini sudah tidak ada karena dibeli oleh dua orang juragan yang tidak dikenal.

Ingatan Brama pulih karena pengaruh sihir yang yang ada di ikat kepalanya hilang. Hilang karena orang yang memasang pengaruh sihir itu Tohpati telah mati, oto matis pengaruh Sihirnya hilang.

Brama langung bergegas mencari ke beberapa penginapan tetapi tidak menemukan juga. Akhirnya mereka menunggu ke-esokan harinya untuk bertemu dengan juragan yang membeli Harnum melalui sebuah pertarungan Sayembara yang berlangsung esok.

***

Gottawa yang di bawa pulang oleh Mantili tidak languang sembuh. Gottawa tidak langsung terbebas dari ancaman Ardalepa. Ardalepa mengatakan kalau Gottawa sakit dan terluka karena ingin dibunuh oleh Samba.

Semua orang di Istana Madangkara itu langsung percaya begitu saja langsung membenci Samba. Ayahanda Samba raja Sanggem tidak percaya. ia datang ke Madangkara untuk menemui anaknya.

Pada saat keadaan sepi, Ardalepa masuk ke kamar Gottawa. ia ingin kembali membunuh membunuh Gottawa. Ardalepa menggunakan ajian yang bisa memasukkan tangan kedalam tubuh lawan dan meremas jantungnya sehingga musuhnya mati. Dan kini Sakit Gottawa sudah sangat parah bahkan ia nyaris mati.

Dengan perasaan berbunga-bunga karena telah menyelamatkan Gottawa, Mantili memasuki kamar Gottawa dan ia berusaha merawat gttawa hingga sembuh. Tapi Gottawa tidak bangun jantungnya berhenti berdetak.

Dengan berbagai cara Mantili berusaha membangunkan Gottawa, tapi tidak berhasil.Sehingga Gottawa dikatakan mati. Dengan Cepat Ardalepa memerintahkan prajuit untuk mengkremasi Gottawa.

***

Panglima Rinkin Sanjaya yang dalam keadaan tersesat bertemu dengan suara orang minta tolong. Setelah didekati, ternyata ia adalah Raden Samba. Panglima RInkin Sanjaya tidak heran mengama Samba bisa ada ditempat itu.

Samba bercerita kalau sebenarnya ia akan dibunuh oleh Ardalepa. Samba meminta agar tidak dibawa pulang ke Madangkara. Sanjaya tidak percaya begitu saja, sehingga ia masih membawa pulang ke Madangkara.

Sesampainya Panglima Rinkin Sanjaya dengan Samba ke Madangkara disambut oleh Mantili dengan sebilah pedang. Mantili akan membunuh Samba tapi niat itu dihalangi oleh Sanjaya karena tidak tahu permasalahannya.

Mantili mnjelaskan kalau Gottawa dibunuh oleh Samba. Tapi Samba menyangkalnya. Itu adalah fitnah karena kejadiannya tidak seperti itu.

Samba bercerita kalau Ardalepa lah yang hendak membunuh Samba. Mendengar hal itu seluruh isi kerajaan terkejut termasuk Mantili dan Bunda Gayatri.

Saat itu ada laporan prajurit kalau Gottawa tidak jadi mati. Mantili, Bunda Gayatri dan Ardalepa segera masuk ke kamar Gottawa.

Gottawa bercerita kalau ia melihat Adalepa hendak ingin menghentikan detak jantungnya. Ardalepa mencoba membunuhnya. Mantili dan Bunda Gayatri percaya kalau Adalepa melakukan hal itu.

Mantili dan Gayatri heran apa gerangan yang terjadi sebenarnya. Ternyata menghilangnya Brama, Raden Samba, Gottawa ada hubungannya dengan Ardalepa. Ardalepa kini kembali kewatak semula jahat dan licik.

Mantili dan Ibunya mencurigai kalau Menghilangnya Brama tentu ada hubungannya dengan Ardalepa.

***

"Istri Brama memang cantik." Begitulah kata yang diucapkan oleh Buntak Bumi yang saat itu mengintio dari luar jendela. "Tapi sayang dari tadi nangis melulu" kata Buntak Bumi dalam hati. ia tergoba untuk mencicipi Putri Harnum yang saat itu sedang menangis.

Buntak Bumi masuk kedalam kamar berniat tidak baik pada Putri Harnum.

Hal itu diketahui oleh Kertagena. Kertagena tidak terima ia mengatakan kalau ialah seharusnya yang melakukan hal itu terlebih dahulu baru Buntak Bumi. Persaingan mereka menimbulkan perkelahian.

Saat ingin kelahi, tiba-tiba Kijara masuk dan mengatakan kalah Buntak Bumi dan Kertagena seperti anak kemarin sore, berkelahi memperebutkan wanita. memalukan. Akhirnya perkelahian batal.

Buntak Bumi bertanya pada kijara, Dengan Cara apa mengalahkan Brama karena Brama atau Sadana memiliki ilmu Serat Jiwa sempurna hingga tingkat sepuluh. Dngan santai Kijara menjawab, ia memiliki Ajian Serat Jiwa tingkat 12. Buntak Bumi dan Kertagena senang dengan hal itu.

***

Hari yang dinantikan sudah tiba. Sadana tidak ingin melanjutkan perkelahian. Brama yang kini ingatannya telah pulih langsung mendatangi Buntak Bumi dan Kertagena bertanya dimana istrinya.

Kijara tidak terima kalau Sadana tidak bertarung dengannya. Kijara langsung menarik Baju Brama dan membawa nya ke arena sayembara untuk melanjutkan pertarungan.

Perkelahian Sadana dan Kijara berlangsung seru. beberapa pukulan mengenai Brama. Kijara mengeluarkan Ajian Serat Jiwa bertarung dengan Sadana dengan jurus yang sama Serat jiwa.

Brama nyais kalah, ia terkena pukulan Ajian Serat Jiwa. tubunya terkapar ditanah. Beruntung rajawali datang membawa lari tubuh Brama.

Tidak sampai disitu, Kijara masih mengejar rajawali raksasa itu. Pertarungan kembali berlangsung, tapi kini diudara. akhirnya Ki Jara kalah. ia terjatuh ketanah. dan Burung Rajawali berhasil membawa terbang Brama Kumbara.

Kijara Mengatakan kalau Sadana telah Mati, Burung Rajawali itu hanya membawa Mayatnya Saja.

Kijara yang terkena pukulan Rajawali terluka parah. Ia akhirnya mati.

Juragan Soma meminta bayaran pada Buntak Bumi. ia mengaku Menang. Langsng saja Buntak Bumi membayarnya dengan sebuah Pukulan ke perut Soma. Kertagena menimali dan Juragan Soma jatuh tersungkur.

***

Ardalepa kini makin bingung, tingkah lakunya sudah ketahuan. Ia menyuruh Panglima Rinkin membunuh Raden Samba. Dengan Alasan Raden Samba di antar ke Kerajaan Sanggem dan diperjalanan Sanjaya bisa membunuhnya.

Dengan terpaksa Sanjaya melakukan hal itu. Membawa Samba pulang. Kemudian beristiahat di tengah hutan. Dihutan itulah banyak penjahat di eksekusi mati.

Panglima Rinkin Sanjaya membuka pedang kemuning emas miliknya dan apa yang terjadi ....

B E R S A M B U N G KE EPISODE 39 SENIN 1 APRIL 2013.

Kamu suka tulisan ini? beri tahu teman yang lain ya. klik aja facebook atau twitter dibawah ini Ok. Terima Kasih ^_^

0 komentar:

Post a Comment

 
Top
Site Meter